KAJIAN KOMPREHENSIF PENGENDALIAN BANJIR KOTA BIMA


BIMA – Banjir yang berulang di Kota Bima dinilai bukan sekadar persoalan hujan ekstrem, melainkan akibat kerusakan struktural daerah aliran sungai (DAS) yang tidak tertangani secara sistemik. Hal itu tertuang dalam kajian komprehensif bertajuk Strategi Pengendalian Banjir di Kota Bima yang disusun oleh Danil Akbar.

Dalam kajian tersebut ditegaskan bahwa konfigurasi morfologi Kota Bima – perbukitan di hulu, zona transisi timur utara, dataran rendah pusat kota, hingga pesisir – menjadikan kota ini sangat rentan terhadap perubahan tutupan lahan. Deforestasi di wilayah hulu disebut sebagai faktor utama yang meningkatkan limpasan permukaan, mempercepat debit puncak, dan memperparah sedimentasi sungai.

Banjir Bukan Sekadar Hujan Deras

Kajian tersebut menekankan bahwa banjir perkotaan ditentukan oleh interaksi curah hujan, kemiringan lereng, kapasitas sungai, kondisi tanah, serta sistem drainase. Referensi dari lembaga internasional seperti World Bank dan United Nations Environment Programme menunjukkan bahwa degradasi hutan tropis dapat meningkatkan debit puncak banjir secara signifikan.

Di sisi lain, laporan Intergovernmental Panel on Climate Change menegaskan adanya peningkatan intensitas hujan ekstrem di wilayah tropis akibat perubahan iklim. Artinya, Kota Bima menghadapi tekanan ganda: degradasi lingkungan lokal dan perubahan iklim global.

Kajian tersebut juga menyoroti efek backwater di wilayah pesisir ketika debit sungai tinggi bertemu pasang laut. Interaksi ini memperparah genangan di kawasan hilir.

Hulu Jadi Kunci

Menurut analisis, solusi pengendalian banjir tidak cukup hanya membangun kolam retensi besar di hilir seperti kawasan Ama Hami. Jika limpasan dan sedimen dari hulu tidak dikendalikan, maka kolam di hilir akan cepat mengalami pendangkalan dan kehilangan kapasitas efektif.

Pendekatan yang direkomendasikan adalah sistem kolam retensi berjenjang:

  1. Hulu dan Sub Hulu – Berfungsi sebagai pemotong energi aliran dan penahan sedimen awal.
  2. Zona Timur Utara (Transisi Morfologi) – Menjadi lokasi strategis kolam retensi utama sebelum air memasuki pusat kota.
  3. Hilir/Pesisir – Sebagai proteksi akhir sebelum limpasan mencapai laut.

Wilayah timur utara dinilai strategis karena secara elevasi mampu memotong debit sebelum mencapai kawasan padat penduduk, sekaligus lebih memungkinkan secara tata ruang dibanding pusat kota.

Perlu Kajian Teknis Ilmiah

Kajian tersebut merekomendasikan serangkaian studi teknis sebelum pembangunan dilakukan, antara lain:

  • Analisis hidrometeorologi berbasis data curah hujan 20–30 tahun.
  • Pemodelan hidrologi menggunakan skenario tanpa kolam, kolam hilir saja, dan sistem berjenjang.
  • Pemodelan hidraulik untuk memetakan tinggi muka air dan luasan genangan.
  • Analisis sedimentasi untuk memperkirakan volume tampungan mati kolam.
  • Kajian hidrodinamika pesisir untuk mengantisipasi efek pasang laut.
  • Studi geoteknik guna memastikan stabilitas tanggul dan keamanan struktur.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Integrated Water Resources Management yang juga direkomendasikan oleh UNESCO.

Tidak Bisa Parsial

Kajian tersebut menyimpulkan bahwa pengendalian banjir Kota Bima harus dilakukan secara sistemik berbasis DAS terpadu. Infrastruktur seperti kolam retensi tidak boleh berdiri sendiri, tetapi harus diintegrasikan dengan rehabilitasi hutan, pengendalian sedimentasi, dan penataan ruang.

Tanpa intervensi serius di hulu, setiap pembangunan di hilir hanya akan menjadi solusi sementara yang rapuh menghadapi tekanan iklim dan degradasi lingkungan.

“Banjir Kota Bima adalah persoalan sistem. Maka solusinya pun harus sistemik, dimulai dari sumbernya, yaitu hulu,” tegas Danil Akbar dalam kajian tersebut.

Posting Komentar

0 Komentar