Politik, Pemerintah, Masyarakat,iklan
TARGET BUSER
GROUB NTB
KOTA BIMA, 21 DESEMBER 2025 – Seorang pasien inisial (Ft) yang berstatus rawat jalan di RSUD Muhammadiyah Bima mengeluhkan bahwa pihak rumah sakit menegaskan untuk memulangkannya meskipun kondisi tubuhnya masih belum pulih total. Pasien yang diperiksa dan ditangani di Unit Gawat Darurat (UGD) mengaku masih merasakan keluhan berupa kelelahan yang cukup berat, disertai nyeri yang muncul pada bagian dada yang diperkirakan terkait dengan masalah lambung, serta nyeri yang menyebar hingga ke area pinggungnya.
Dokumen pemeriksaan pasien yang diperoleh menunjukkan catatan medis dengan diagnosis awal "Dispepsia" (gangguan pencernaan yang menyebabkan nyeri atau ketidaknyamanan di daerah perut atas). Selain itu, tercatat hasil pengukuran kondisi fisik pasien, antara lain TD (tekanan darah) 110/60 mmHg, BB (berat badan) 89 kg, TB (tinggi badan) 155 cm, serta beberapa catatan tambahan terkait parameter kesehatan lainnya seperti denyut nadi dan frekuensi napas yang tercatat pada berkas medis.
Meskipun mengungkapkan keluhan tersebut dan berdasarkan catatan kondisi yang tertera, pihak RSUD Muhammadiyah Bima tetap menetapkan kebijakan untuk mengizinkan pasien pulang. Menurut penjelasan yang diberikan oleh tim medis yang menangani, hasil pemeriksaan klinis dan evaluasi awal menunjukkan bahwa kondisi pasien termasuk dalam kategori rawat jalan, sehingga dinyatakan aman untuk dipulangkan dan akan mendapatkan pengobatan lanjutan berupa pemberian obat yang akan disiapkan oleh bagian farmasi rumah sakit. Pada kolom terapi dalam berkas medis juga tercatat beberapa jenis tindakan dan obat yang akan diberikan kepada pasien, meskipun sebagian detailnya tertutup oleh tangan yang berada di atas dokumen.
(Ft)- Pasien ini berasal dari Kelurahan Penatoi, Kecamatan Kota Bima, dan telah datang ke RSUD Muhammadiyah Bima pada hari Minggu dini hari, tepatnya pada pukul 03.40 WITA. Keluarga pasien yang menemani saat berobat mengungkapkan bahwa proses pelayanan yang diterima sejak kedatangan di rumah sakit tidak sesuai dengan harapan dan tidak menunjukkan standar profesionalisme yang seharusnya diterapkan oleh tenaga kesehatan.
"Saat awal kedatangan dan dilakukan tindakan pemasangan jarum infus sebagai bagian dari penanganan awal, kami melihat bahwa petugas hanya menusukkan jarum ke tubuh pasien namun tidak melanjutkan dengan memasang selang infus dan komponen pendukung lainnya. Setelah itu, petugas langsung pergi meninggalkan pasien tanpa memberikan penjelasan apapun terkait tindakan yang akan dilakukan selanjutnya," ujar salah satu anggota keluarga pasien saat memberikan keterangan.
Keluarga pasien mengaku harus menunggu sekitar satu jam setengah dengan kondisi pasien yang sudah dipasangi jarum infus namun belum lengkap dengan kelengkapannya. Kondisi tersebut membuat keluarga semakin khawatir, mengingat pasien sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan dan keluhan nyeri yang tidak kunjung mereda. Setelah merasa tidak dapat menunggu lebih lama lagi, keluarga akhirnya harus menghubungi dan menyampaikan keluhan secara tegas kepada petugas yang bertugas di area UGD. Baru setelah itu, petugas datang kembali untuk melengkapi pemasangan selang infus dan melakukan pengecekan ulang terhadap kondisi pasien, sekaligus memberikan penjelasan terkait langkah-langkah penanganan selanjutnya.
Keluarga pasien berharap bahwa pihak RSUD Muhammadiyah Bima dapat menindaklanjuti keluhan yang diajukan ini, serta melakukan evaluasi mendalam terhadap standar pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan di UGD. Mereka menekankan bahwa setiap pasien berhak mendapatkan perawatan yang profesional, aman, dan sesuai dengan prosedur medis yang berlaku agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang. Hingga saat berita ini diterbitkan, pihak manajemen RSUD Muhammadiyah Bima belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan yang diajukan oleh keluarga pasien, meskipun telah dilakukan upaya untuk menghubungi pihak terkait di rumah sakit tersebut.


0 Komentar