BIMA, NTB– Empat pekerja proyek Opname Rabat di Desa Parangina, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, menjadi korban keterlambatan pembayaran gaji yang sudah berlangsung selama satu bulan. Total hak yang belum dibayarkan oleh PT Bunga Raya mencapai Rp16.650.000, membuat para pekerja resah jelang bulan suci Ramadhan.
Salah satu pekerja, Him, mengaku sudah menyelesaikan tugas sesuai ketentuan, namun upaya penagihan menemui jalan buntu.
"Kami sudah berkoordinasi dan menagih ke pihak pelaksana proyek, tapi mereka malah saling melempar tanggung jawab. Tidak ada satu pun pihak yang mau mengakui dan memberikan kejelasan kapan gaji kami cair," tegas Him saat ditemui awak media Target Buser Group NTB.
Merasa tidak ada kepastian dan dipermainkan, para pekerja akhirnya membawa persoalan ini ke meja redaksi Target Buser Group NTB untuk dicarikan solusi dan dipublikasikan.
Menanggapi laporan tersebut, awak media Target Buser Group NTB mencoba mengonfirmasi ke Istiqomah, selaku Admin PT Bunga Raya, melalui pesan WhatsApp. Namun, respon yang diberikan sangat tidak kooperatif dan cenderung menghalangi tugas jurnalistik.
Saat ditanya soal keterlambatan gaji, Istiqomah justru melontarkan pertanyaan yang mempertanyakan kewenangan media. "Apa urusannya dengan media? Ini urusan pekerja dengan perusahaan, sama saja ingin mencari masalah kami," ujar Istiqomah dengan nada membela diri.
Tegas, awak media menepis pernyataan tersebut. "Kami mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa perusahaan tidak membayar gaji selama satu bulan. Jangan menghalangi tugas pers yang berfungsi menyuarakan aspirasi publik," balas awak media.
Setelah ditegur, Istiqomah kemudian mengalihkan tanggung jawab sepenuhnya. Ia mengaku urusan gaji sudah dilaporkan ke kantor cabang Mataram dan meminta para pekerja berkoordinasi sendiri, sembari memberikan nomor kontak yang disebut sebagai CNP Mataram.
"Pekerjaan opname rabat sudah masuk di Mataram, pihak Mataram yang proses. Kapan cair tergantung bos di Mataram. Apalagi pekerjaan APBD ini ada sembilan ruas, adminnya cuma satu, masih diperiksa sesuai atau tidak," tambahnya, yang menunjukkan ketidaksiapan manajemen perusahaan.
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai tahun anggaran APBD yang digunakan untuk proyek tersebut, Istiqomah memilih diam dan hanya membiarkan pesan dengan status 'centang biru' tanpa jawaban. Hal ini memunculkan dugaan kuat adanya indikasi keterlambatan pekerjaan, mengingat jika proyek tersebut menggunakan anggaran APBD 2025, seharusnya proses administrasi dan pembayaran sudah berjalan lancar.
Saat ini, para pekerja menuntut tanggung jawab penuh PT Bunga Raya. Mereka berharap gaji yang menjadi haknya segera cair dalam waktu dekat sebelum Ramadhan tiba untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Hingga berita ini diturunkan, tidak ada kejelasan pasti dari manajemen pusat PT Bunga Raya maupun pihak terkait di Mataram mengenai kepastian waktu pencairan gaji para pekerja.
Red.
(Tim Redaksi Target Buser Group NTB)

0 Komentar